Header Ads

Benarkah Muslimah Lebih Mulia Tanpa Jilbab..?

Jika mau jujur, syariat sesungguhnya menyuguhkan keselarasan dalam kehidupan manusia. Jilbab, misalnya. Syariat ini tak terhitung lagi kontribusinya dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang bersusila. Namun syariat yang mulia ini justru hendak dicerabut oleh para aktivis perempuan dengan dalih kebebasan (berbusana). Padahal, sekali lagi jika mau jujur, apa kontribusi yang ditawarkan emansipasi dalam kehidupan masyarakat? Menurunkah kejahatan seksual seiring dengan makin lantangnya teriakan emansipasi?

Dalam hadits Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, diungkapkan sebuah dialog antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang budak wanita:

قَالَ: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Di mana Allah?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di (atas) langit.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali: ‘Siapa saya?’ ‘Anda Rasulullah,’ jawab budak wanita itu. Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bebaskan dia. Karena sesungguhnya dia seorang wanita yang beriman’.” (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Sunan Abi Dawud, no. 930)

Cermatilah kisah mulia di atas. Sejenak saja merenungi, niscaya akan banyak didapat mutiara hikmah dari hadits tersebut. Akan ditemukan, betapa kemuliaan seorang wanita bukan semata keelokan paras dan tubuhnya. Bukan pula semata karena kekayaan yang menyelimutinya. 

Tidak juga lantaran semata keturunan. Kisah hadits di atas membeberkan demikian gamblang, betapa keimanan yang kokoh menyembul di kalbu mampu mengantarkan seseorang memperoleh kemuliaan. Keimanan dan ilmu yang dimiliki jariyah (budak wanita) itu telah mengurai belenggu budak yang melekat padanya. Ia menjadi seorang wanita yang dengan leluasa menghirup udara kebebasan senyatanya.
Cermatilah, dengan keimanan yang menggumpal di relung hatinya, sang budak wanita itu dengan penuh keyakinan mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di (atas) langit dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah. Kenapa ia mampu menjawab? Tak lain karena ilmu yang ia miliki. Ya, melalui keimanan dan ilmu, maka akan terangkatlah martabat dan harkat seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan: “Allah tidak menentukan (kadar, pen) derajat, karena derajat ini terkait faktor keimanan dan keilmuan yang ada pada seseorang. Semakin kokoh keimanan dan semakin banyak keilmuan yang bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, maka akan makin banyak (tinggi, pen.) pula derajatnya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, hal. 1473)


Karenanya, sungguh teramat tidak santun bila ada seorang muslimah menyuarakan bahwa kemuliaan wanita bisa tergapai manakala keseteraan jender terpenuhi. Naif, dan teramat naif, bila seorang muslimah masih beragitasi meneriakkan emansipasi wanita sebagai upaya memuliakan kehidupan kaum wanita.
Bagai menegakkan benang basah, ia tengah berlari mengejar fatamorgana yang tiada kunjung akan direguknya. Saat dirinya menyuarakan emansipasi wanita, saat itu pula setali demi setali ikatan Islam terlepas dari dirinya.

Setan menyeretnya secara halus, yang berujung pada terjerembabnya para pegiat emansipasi ke kubang kehinaan. Hina karena syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dipinggirkan. Tak dijadikan rujukan. Selisiklah apa yang terjadi pada Kongres Perempuan Pertama yang dimulai tanggal 22 Desember 1928.

Kongres, yang merupakan awal pergerakan emansipasi di Indonesia, dalam berbagai paparan sebagian pesertanya telah mengarah kepada pelecehan nilai-nilai agama Islam. Sebut misal masalah poligami. Dalam Kongres itu nampak sebagian peserta lebih membanggakan nilai-nilai Barat, meski ada pula coba yang menetralisir. (Lihat Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, Susan Blackburn)

Ini hanya sebuah kasus. Cuplikan dari perjalanan sejarah pergerakan emansipasi wanita di Bumi Nusantara ini. Betapa kelam jalan yang akan ditempuh para muslimah kala mereka menanggalkan nilai-nilai Islam. Keterpurukan, kehinaan, dan kerendahan akan selalu membayangi jalan hidupnya. Singkaplah apa yang telah diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa keterpurukan itu terjadi lantaran agama tak lagi dipatuhi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Thaha: 123-124)

2 comments:

Bagaimana pendapat Anda tentang Artikel di atas...??
Silahkan beri komentar dan tanggapan melalui kolom komentar di bawah ini..!

Powered by Blogger.